Adanya sanggar ini bertujuan untuk melestarikan budaya Seloko Pantun Jambi yang mana akan mewariskan seni budaya daerah kepada masyarakat khususnya generasi muda serta pada umumnya kepada masyarakat daerah Jambi.
Sanggar Budaya Seloko Pantun Jambi sampai saat ini telah memiliki 40 anggota yang aktif dalam kegiatan sanggar budaya, kegiatan ini didukung juga dari tua tengganai dan tokoh budaya Jambi yang ada, Halim Mustari selaku Direktur, pada saat penanda tanganan akta juga menjelaskan "Jika para tua tengganai siap mendampingi dan menuntun generasi muda yang berminat menjaga budaya Seloko Pantun Jambi, seloko pantun lazimnya digunakan saat upacara adat Jambi maupun acara pernikahan masyarakat Jambi, dengan bantuan tua tengganai dan tokoh budaya, Seloko Pantun Jambi diharapkan tetap terjaga dan tumbuh di tengah masyarakat,” ujar Halim
Halim Mustari juga berharap agar peran serta masyarakat Jambi dapat semakin besar dalam melestarikan Seloko Pantun kedepan, para tua tengganai juga berencana jika nanti ke depan akan menggelar event budaya Seloko Pantun Jambi sebagai wadah pelestarian dan pengenalan kepada publik secara lebih falam dan luas lagi
Salah satu dari pantun jambi yang banyak telah di dengar oleh telinga masyarakat jambi ialah sebagai berikut
" Cincang pelupuh kulit baru, raino raino di rumah tinggal, yang lusuh kito perbaru, adat lamo jangan di tinggal"
"Ke ttahtul yaman membeli joda, untuk dibuat babuko puaso, walaupun zaman terus berubah, adat budayo jangan dilupokan.
20/05/2026 ( Hallo Siginjai - TPG)

0 Komentar