Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muaro Jambi, 36 siswa itu terdiri dari 24 siswa Sekolah Dasar/SD dari total 41.342 peserta didik dan 12 siswa Sekolah Menengah Pertama/SMP dari total 13.589 siswa.
“Target kita seharusnya nol anak putus sekolah. Satu anak saja yang kehilangan akses pendidikan harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegas Aidi Hatta saat diwawancarai,
Aidi menegaskan DPRD Muaro Jambi tidak tinggal diam. Pihaknya telah memanggil dinas dan instansi terkait untuk membahas penyebab anak berhenti sekolah sekaligus merumuskan langkah konkret guna mengembalikan mereka ke bangku pendidikan
Ia menjelaskan, faktor ekonomi masih menjadi penyebab dominan. Sebagian anak terpaksa membantu orang tua mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, rendahnya kesadaran sebagian orang tua terhadap pentingnya pendidikan juga menjadi tantangan tersendiri.
Tak kalah penting, kondisi lingkungan sekolah seperti dugaan perundungan atau bullying juga harus menjadi perhatian semua pihak.
“Persoalan ini tidak bisa dilihat dari jumlahnya saja. Kita harus melihat alasan di balik mereka berhenti sekolah dan memastikan masalahnya benar-benar diselesaikan,” ujarnya.
Menurut Aidi, solusi yang diberikan tidak boleh bersifat sementara. Pemerintah daerah harus mampu menyentuh akar persoalan sehingga anak-anak tidak kembali mengalami putus sekolah di kemudian hari.
Sebagai bentuk keseriusan, Dinas Pendidikan Muaro Jambi disebut telah menyiapkan sejumlah program untuk menjangkau kembali anak-anak yang terlanjur meninggalkan bangku sekolah. DPRD Muaro Jambi akan terus mengawal program tersebut hingga terealisasi.
Tim Redaksi Hallo Siginjai 06/06/2026

0 Komentar